Kucing Schrodinger
penjelasan mekanika kuantum tentang realitas yang baru muncul saat diamati
Pernahkah kita mengirim pesan yang sangat penting kepada seseorang, lalu buru-buru membalikkan ponsel karena takut melihat balasannya? Mungkin itu pesan pengakuan cinta. Mungkin itu lamaran pekerjaan. Selama ponsel itu tertutup dan layarnya gelap, kita berada dalam sebuah siksaan psikologis yang unik. Jawabannya bisa saja penolakan. Namun, bisa juga penerimaan. Selama kita belum melihat layar itu, kedua kemungkinan tersebut terasa hidup berdampingan di dalam kepala kita. Perasaan mengambang di antara dua realitas ini sebenarnya sangat manusiawi. Otak kita membenci ketidakpastian. Kita selalu ingin tahu arah dunia di sekitar kita. Namun, tahukah teman-teman bahwa perasaan "menggantung" ini ternyata adalah fondasi dari salah satu eksperimen sains paling terkenal sepanjang sejarah? Eksperimen ini melibatkan sebuah kotak, racun, dan seekor kucing.
Mari kita putar waktu kembali ke tahun 1935. Saat itu, dunia fisika sedang mengalami krisis identitas yang luar biasa. Para ilmuwan baru saja menemukan dunia kuantum, yaitu dunia subatomik tempat elektron dan foton bermain dengan aturan yang sama sekali berbeda dari dunia kita sehari-hari. Tokoh-tokoh seperti Niels Bohr dan Werner Heisenberg mengajukan sebuah gagasan yang disebut Interpretasi Kopenhagen. Sederhananya, mereka bilang begini: di dunia subatomik, sebuah partikel tidak memiliki wujud atau posisi yang pasti sampai ia diamati atau diukur. Sebelum diukur, partikel itu ada di semua kemungkinan secara bersamaan. Konsep ini disebut superposition. Hal ini membuat seorang fisikawan bernama Erwin Schrödinger merasa sangat frustrasi. Bagi Schrödinger, gagasan ini terdengar konyol. Bagaimana mungkin realitas alam semesta bergantung pada apakah ada manusia yang melihatnya atau tidak? Schrödinger lalu duduk dan berkorespondensi dengan sahabatnya, Albert Einstein. Keduanya sepakat bahwa teori ini sangat tidak masuk akal jika dibawa ke dunia nyata. Untuk membuktikan betapa absurdnya teori tersebut, Schrödinger merancang sebuah eksperimen pikiran. Ia meminta kita membayangkan sebuah kotak baja yang tertutup rapat.
Di dalam kotak itu, kita masukkan seekor kucing yang sehat. Bersama kucing itu, kita letakkan sebuah mekanisme yang sangat mematikan. Mekanisme ini terdiri dari sebuah atom radioaktif, alat pencacah Geiger, dan sebuah botol kaca berisi gas beracun. Aturannya begini: dalam waktu satu jam, ada kemungkinan 50 persen atom radioaktif itu akan meluruh, dan 50 persen kemungkinan ia tidak meluruh. Jika atom itu meluruh, pencacah Geiger akan mendeteksinya. Alat itu lalu akan memicu palu kecil untuk memecahkan botol racun. Akibatnya, kucing itu akan mati. Namun, jika atom tidak meluruh, racun tetap aman. Kucing itu pun akan tetap hidup. Nah, selama kita belum membuka kotak tersebut, apa yang sedang terjadi di dalam sana? Menurut logika Interpretasi Kopenhagen di dunia kuantum, atom itu berada dalam kondisi superposition. Atom itu meluruh dan tidak meluruh secara bersamaan. Logika ini menciptakan rantai peristiwa yang mengerikan. Jika atomnya meluruh dan tidak meluruh, maka racunnya keluar dan tidak keluar. Kesimpulannya? Kucing di dalam kotak itu sedang dalam keadaan hidup sekaligus mati. Kucing itu menjadi semacam zombi kuantum. Kita terjebak dalam teka-teki. Apakah dunia benar-benar menunggu kita untuk membuka kotak sebelum menentukan nasib si kucing? Einstein bahkan pernah bertanya dengan nada sinis, "Apakah teman-teman benar-benar percaya bahwa bulan hanya ada ketika kita melihatnya?"
Di sinilah kita sampai pada rahasia terbesarnya. Banyak orang mengira Schrödinger membuat eksperimen ini untuk membuktikan betapa ajaib dan kerennya mekanika kuantum. Faktanya justru sebaliknya. Schrödinger menggunakan kucing ini sebagai bentuk sarkasme tingkat tinggi. Ia pada dasarnya sedang mengkritik ilmuwan lain. Ia ingin menunjukkan bahwa, "Lihatlah betapa bodohnya teori kalian jika diterapkan pada benda berukuran besar seperti kucing!" Dan sains modern akhirnya memberi kita jawaban yang lebih jernih. Di dunia partikel subatomik yang sangat kecil, gelombang probabilitas itu memang nyata. Elektron benar-benar ada di mana-mana sampai terjadi wave function collapse (runtuhnya fungsi gelombang) akibat pengukuran. Namun, hal ini tidak berlaku untuk kucing. Kenapa? Karena ada fenomena yang disebut quantum decoherence. Di dunia nyata, seekor kucing itu besar, hangat, dan tersusun dari triliunan atom. Atom-atom di tubuh kucing, molekul udara di dalam kotak, dan alat pencacah Geiger itu saling berbenturan dan saling "mengukur" satu sama lain setiap milidetik. Realitas tidak butuh mata manusia untuk terbentuk. Lingkungan di dalam kotak itu sendiri sudah cukup untuk meruntuhkan superposition. Jadi, jauh sebelum kita membuka kotak itu, si kucing secara fisik sudah pasti murni hidup atau murni mati. Ia tidak pernah menjadi zombi. Sains yang keras dan objektif membuktikan bahwa alam semesta tetap berjalan, entah kita sedang memperhatikannya atau tidak.
Meski fisika kuantum sudah menyelamatkan kucing itu dari status zombi, metafora Schrödinger ini tetap sangat relevan dengan psikologi kita sehari-hari. Secara fisik, realitas di luar sana memang sudah pasti. Namun secara mental, kita sering kali mengurung diri kita sendiri di dalam kotak Schrödinger. Kita menunda mengambil keputusan. Kita menunda mengecek saldo rekening karena takut melihat angkanya. Kita menunda pergi ke dokter karena takut mendengar diagnosis penyakit. Selama kita tidak "membuka kotak" itu, kita merasa aman karena semua kemungkinan buruk belum benar-benar terjadi. Kita membiarkan pikiran kita hidup dalam superposition antara harapan dan kecemasan. Teman-teman, ketakutan akan hal yang tidak diketahui adalah sifat dasar kita sebagai manusia. Itu wajar. Namun, sejarah alam semesta dan mekanika kuantum mengajarkan kita satu hal yang penting. Informasi dan kepastian hanya akan terwujud jika kita berani melakukan pengukuran. Kita harus berani menghadapi realitas. Entah kucing di dalam sana ternyata hidup atau mati, membuka kotak adalah satu-satunya cara bagi kita untuk bisa melangkah maju. Kita tidak bisa menghabiskan sisa hidup kita dengan berdiri di depan kotak yang tertutup. Jadi, apa pun ketidakpastian yang sedang teman-teman hadapi hari ini, ambil napas dalam-dalam, dan bukalah kotak itu.